Senin, 28 September 2015

Laporan Study Lapang, Agroteknologi Unsyiah

Laporan Studi Lapang

TEKNIK PENGOLAHAN TANAH DAN PEMELIHARAAN
  PADA TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L).
DI BALAI BENIH HORTIKULTURA DESA SUKA MULIA KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN ACEH BESAR

Oleh
NASRULLAH
1205101050059




PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015






TEKNIK PENGOLAHAN TANAH DAN PEMELIHARAAN
 TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L.)
DI BALAI BENIH HORTIKULTURA DESA SUKA MULIA
KECAMATAN LEMBAH SELAWAH
KABUPATEN ACEH BESAR


Oleh :

NASRULLAH
1205101050059






PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI



Studi Lapang Merupakan Salah Satu Syarat dalam
 Menyelesaikan Mata Ajaran Tingkat Sarjana pada
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala
 Darussalam-Banda Aceh







Mengetahui                                                         Menyetujui
     Sekretaris Program                                            Dosen Pembimbing
     Studi  Agroteknologi




 Trisda Kurniawan, SP., M.P                                Trisda Kurniawan, SP., M.P
NIP. 197707282008011006                                     NIP. 197707282008011006






KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang tak terhingga kepada ALLAH SWT, karena dengan rahmat dan hidayah-Nyalah penulis telah dapat menyelesaikan kegiatan Studi Lapang yang telah dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar dan juga dapat menyelesaikan laporan Studi Lapang yang berjudul “TEKNIK PENGOLAHAN TANAH DAN PEMELIHARAAN PADA TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L.) DI BALAI BENIH HORTIKULTURA DESA SUKA MULIA KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN ACEH BESAR”.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.       Bapak Trisda Kurniawan, SP, M.P sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan laporan Studi Lapang ini.
2.      Bapak Yusuf selaku karyawan di Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree Aceh Besar yang telah membimbing penulis di lapangan dalam kegiatan Studi Lapang ini.
3.        Ibu Nanda Mayani, SP, MP. Selaku koordinator mata kuliah Studi Lapang.
4.      Bapak Dr. Ir. Ashabul Anhar, M.Sc dan Trisda Kurniawan, SP, M.P sebagai Ketua Jurusan dan Sekretaris Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
5.   Seluruh Staf BBH Saree Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar yang sudikiranya telah membimbing kami praktikum dan seluruh teman-teman seperjuangan yang telah membantu dan memberi semangat kepada penulis.
Di dalam laporan ini penulis merasa masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari bapak/ ibu demi penyempurnaan laporan ini.
Darussalam, 2 mei 2015
Penulis




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL................................................................................................ iv
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... v
I.                   PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang................................................................................ 1
1.2. Tujuan.............................................................................................. 3
1.3. Manfaat........................................................................................... 3
II.                TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 4
2.1. Biologi Tanaman Mangga............................................................... 4
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Mangga................................................... 4
2.2.1. Iklim....................................................................................... 4
2.2.2. Tanah...................................................................................... 5
2.2.3. Media Tanam.......................................................................... 5
2.2.4. Ketinggian Tempat................................................................. 5
2.3.Pemeliharaan Tanaman Mangga....................................................... 6
2.3.1. Penyiangan............................................................................. 6
2.3.2. Pembumbunan dan Penggemburan........................................ 6
2.3.3. Pemangkasan.......................................................................... 7
2.3.4. Pemupukan............................................................................. 7
2.3.5. Peningkatan Kualitas Buah.................................................... 8
III.             GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI LAPANG...................... 9
3.1. Letak Geografis............................................................................... 9
3.2. Iklim................................................................................................ 10
3.3. Kondisi Bidang Pertanian............................................................... 11
IV.             METODOLOGI PELAKSANAAN KEGIATAN......................... 12
4.1. Tempat dan Waktu.......................................................................... 12
4.2. Alat dan Bahan............................................................................... 12
4.3. Metode Studi Lapang..................................................................... 12
4.3.1. Pengumpulan Data Primer.................................................... 12
4.3.2. Pengumpulan Data Sekunder............................................... 12
4.4. Analisa Data.................................................................................... 13
V.                HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................... 14
5.1. Hasil Pengamatan............................................................................ 14
5.2. Pembahasan..................................................................................... 14
5.2.1. Pengolahan Tanah.................................................................. 14
5.2.2. Pemeliharaan Tanaman Mangga............................................. 16
VI.             PENUTUP........................................................................................... 18
6.1. Kesimpulan...................................................................................... 18
6.2. Saran................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 19
LAMPIRAN.......................................................................................................... 20




DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto-foto Kegiatan Studi Lapang................................................. 20
Lampiran 2. Daftar Quisioner............................................................................. 23



DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pemberian pupuk menurut umur tanaman  .................................................. 8
Tabel 2. Jumlah Dan Rata-Rata Curah Hujan........................................................... 10
Tabel 3. Pemupukan Mangga Menurut Fase Pertumbuhan........................................ 16



 I.PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Studi Lapang adalah sebuah mata kuliah wajib pada Program Studi Agroteknologi yang diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat akhir. Studi Lapang ini biasa dilaksanakan dengan metode survei langsung ke lapangan untuk melihat langsung permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh petani. Dalam hal ini mahasiswa melaksanakan suatu wawancara langsung dengan petani yang berkaitan dengan bidang agroteknologi. Penulis tertarik mengamati secara langsung tentang  “Teknik Pengolahan Tanah Dan Pemeliharaan Tanaman Mangga (Mangifera Indica L.)” di BBH Saree, Kabupaten Aceh Besar. Dengan Studi Lapang ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa di bidang pertanian.
Tanaman mangga merupakan buah tropis unggulan nasional  yang  banyak dijumpai dan ditanam di Indonesia.  Jenis mangga yang tumbuh dan diusahakan di Indonesia sangat beragam dan tumbuh pada agroekologi yang berbeda-beda sehingga produksi dan kualitasnya sangat beragam. 
Pengamatan terhadap objek dilakukan berdasarkan judul yang telah ditetapkan sebelum melakukan studi lapang dengan bantuan bimbingan dari staf ahli yang terdapat pada Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree, Aceh Besar. Pengamatan dilakukan lansung dilapangan khususnya pada area lahan tanaman mangga dengan memperhatikan teknik pengolahan tanah secara kondusif.
Mangga termasuk kedalam marga Mangifera, yang terdiri dari 35-40 anggota, dan suku Anacardiaceae. Mangifera  indica adalah nama ilmiah dari mangga itu sendiri. Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m, mangga berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah menyebar ke Asia Tenggara semenjak 1500 tahun yang silam. Buah ini dikenal pula dalam berbagai bahasa daerah, seperti pelem atau poh (jawa).
Persyaratan yang dikehendaki oleh tanaman mangga untuk hasil optimal adalah pengolahan tanah sehingga tanaman mangga akan menghasilkan kualitas yang tinggi. Manfaat dari pengolahan tanah untuk tanaman mangga, supaya mangga yang dibudidayakan tersebut dapat tumbuh dengan baik dan dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi.
            Berdasarkan paparan di atas maka perlu dilakuakan Studi Lapang tentang pengolahan tanah pada tanaman mangga di Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree Desa Suka Mulia Kecamatan Lembah Seulawah Aceh Besar, agar mengetahui cara pengolahan tanah yang baik dan benar.


1.2  Tujuan
Adapun tujuan Studi Lapang ini yaitu untuk menambah wawasan dalam pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman, serta memahami secara langsung bagaimana cara pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman mangga di Balai Benih Hortikultura Desa Suka Mulia, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.

1.3    Manfaat
            Mengetahui bagaimana cara pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman mangga untuk menghasilkan produksi yang  baik seperti yang dilakukan oleh Balai Benih Hortikultura di Desa Suka Mulia, Kecamatan Lembah Seulawah,  Kabupaten Aceh Besar.



II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Biologi Tanaman Mangga
            Tanaman mangga berasal dari Negara India. Buah mangga baik untuk kesehatan karena mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh, baik dalam jumlah sedikit maupun dalam jumlah banyak (Napitupulu, 1982).

Klasifikasi Mangga
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas        : Rosidae
Ordo                : Sapindales
Famili              : Anacardiaceae
Genus              : Mangifera
Spesies            : Mangifera indica L.  (Rukmana, 1997)

2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Mangga
2.2.1. Iklim
Tanaman mangga cocok hidup di daerah dengan musim kering selama 3 bulan. Kemarau yaang panjang antara 5-6 bulan justru mendukung pembungaan mangga. Masa kering diperlukan sebelum dan sewaktu berbunga. Jika ditanam di daerah basah, tanaman mengalami banyak serangan hama dan penyakit serta gugur bunga/buah jika bunga muncul  pada saat hujan. Suhu udara yang ideal adalah antara 270-340C dan tidak ada angin kencang atau angin panas. Di samping itu, untuk mendapatkan produksi yang optimal, tanaman mangga membutuhkan penyinaran matahari antara 50%-80% (Rukmana, 1997:32).

2.2.2. Tanah
a.       kondisi tanah yang baik untuk budidaya tanaman mangga adalah yang banyak mengandung unsur hara (subur) mengandung pasir dan lempung dalam jumlah yang seimbang (gembur).
b.      pH yang cocok untuk tanaman mangga adalah 5.5-7.5. Jika pH tanahnya dibawah 5.5 sebaiknya dilakukan pengapuran dengan menggunakan kapur dolomit terlebih dahulu sebelum ditanam tanaman mangga (Rukmana, 1997:34).

2.2.3. Media Tanam
Tanaman mangga mempunyai daya penyesuaian tinggi terhadap berbagai jenis tanah. Pertumbuhan dan produksi mangga yang optimal membutuhkan jenis tanah berpasir, lempung atau agak liat. Keadaan tanah yang ideal untuk tanaman mangga adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, drainasenya baik, dan pH optimum antara 5,5-6,0 (Rukmana, 1997:35).

2.2.4. Ketinggian Tempat
Cocok ditanam di dataran rendah dan menengah dengan ketinggian 0-500 M dpl. Buah yang dihasilkan lebih banyak di ketinggian sedang dari pada tinggi (Rukmana, 1997:36)

Pengolahan tanah yang mudah di lakukan adalah dengan cara mencangkul, sehingga rumput-rumput dan hama bisa mati. Pencangkulan sebaiknya di lakukan pada musim kemarau atau selambat-lambatnya pada awal musim hujan. Karena tanah hasil cangkulan yang masih berbentuk gumpalan akhirnya dapat pecah hancur karena panas dan tetesan air hujan (Pracaya, 1998).
Jika tanah sudah gembur dan bebas dari rumput dan gulma serta hama, maka langkah selanjutnya adalah membuat gundukan-gundukan tanah setinggi 40 cm sampai 80 cm. Gundukan tersebut akan bermanfaat, selain untuk tempat penanaman, juga untuk mempercepat perkembangan, karena batang bagian bawah akan tertutup tanah dan tidak terkena cahaya matahari, sehingga proses pengakaran akan meningkat lebih banyak, dan pertumbuhan tanaman akan optimal. Selanjutnya pertumbuhannya pun akan lancar, subur dan cepat besar. Dengan pengolahan tanah yang tepat waktu dan hasil pengolahan yang baik dan bersih akan memudahkan penanaman (Suparman, 2007).
            Tanaman mangga yang ditanam di daerah berpasir kualiatas buahnya kurang baik, rasa buah menjadi hambar seperti air. Tanah semacam itu sering mengakibatkan tanaman menjadi kekurangan air, karena air mudah sekali meresap ke lapisan yang lebih dalam. Tanah yang bertekstur berat juga kurang baik untuk tanaman mangga, karena pada musim hujan proses pengeringannya sulit dilakukan. Sebaliknya, pada musim kemarau, tanah menjadi keras sekali dan pecah-pecah, kandungan airnya terikat erat sehingga tanaman menjadi kekurangan air, sedangkan air yang tak terikat sudah banyak yang menguap (AAK,1991)

2.3. Pemeliharaan Tanaman Mangga
Menurut Kaslan (1978) pemeliharaan tanaman mangga sebagai berikut :
2.3.1. Penyiangan
Penyiangan adalah kegiatan mencabut gulma yang berada diantara sela-sela tanaman dan sekaligus menggemburkan tanah. Penyiangan bertujuan untuk membersihkan tanaman yang sakit, mengurangi persaingan penyerapan hara, mengurangi hambatan produksi anakan dan mengurangi persaingan penetrasi sinar matahari. Hal ini disebabkan tanaman harus mendapatkan semua nutrisi dan air yang diberikan oleh petani agar mampu menghasilkan secara optimal. Gulma  yang telah dicabut dapat dibenamkan atau dibuang ke tempat lain agar tidak tumbuh lagi.
2.3.2. Penggemburan dan Pembumbunan
Penggemburan adalah kegiatan menggemburkan kembali tanah-tanah yang telah memadat, dengan tujuan memperbaiki peredaran udara didalam tanah dan mengurangi gas-gas atau zat-zat beracun didalam tanah. Dengan demikian, perakaran tanaman akan menjadi lebih sehat dan tanaman menjadi cepat besar.
Pembumbunan adalah penimbunan tanah di pangkal rumpun tanaman, diperlukan untuk menegakkan tanaman. Tanah di sekitar tanaman sering kali terkikis oleh erosi air terutama air irigasi maupun air hujan sehingga tanah yang ada di sekitar tanaman tidak mampu lagi menopang tegaknya tanaman.
2.3.3. Pemangkasan
Pemangkasan adalah penghilangan beberapa bagian tanaman. Pada tanaman mangga, ada dua pemangkasan yaitu pemangkasan bentuk dan pemangkasan pemeliharaan. Pemangkasan bentuk bertujuan untuk membentuk kerangka dasar tanaman agar mempunyai produktivitas yang tinggi dan membentuk tajuk untuk memudahkan panen serta perawatan tanaman. Pemangkasan pemeliharaan bertujuan untuk kesehatan tanaman, mengoptimalkan pertumbuhan dan produktivitas buah maupun kontinuitas buah serta kemudahan dalam pemanenan.
2.3.4. Pemupukan
Pemupukan adalah tindakan pemberian tambahan unsur-unsur hara pada komplek tanah, baik langsung maupun tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman. Tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman.
Pemupukan pada tanaman mangga menggunakan pupuk organik dan anorganik dengan memperhatikan cara dan dosisnya :
a. Pupuk organik
Pupuk Kandang (PK) diberikan 1 kali pada awal musim hujan. Caranya dibenamkan disekitar pohon selebar tajuk tanaman atau menggali lubang pada sisi tanaman. Mangga umur 1 – 5 tahun diberi 30 kg PK, umur 6 – 15 tahun diberi 60 kg PK.
b. Pupuk anorganik
Akan lebih optimal jika ditambahkan Supernasa atau jika pupuk kandang sulit di dapatkan, maka bisa digunakan Supernasa dengan dosis :
  1. Alternatif 1 : 0,5 sendok makan/ 5 lt air per tanaman.
  2. Alternatif 2 : 1 botol Supernasa encerkan dalam 2 lt (2000 ml) air jadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 lt air diberi 20 ml larutan induk tadi untuk menyiram per pohon.
  3. Pemberian Supernasa selanjutnya dapat diberikan setiap 3 – 4 bulan sekali.
  4. Penyemprotan POC NASA (4-5 ttp/tangki) atau lebih optimal POC NASA (3-4 ttp) + HORMONIK (1 ttp ) per tangki setiap 1 – 3 bulan sekali.
Pupuk NPK 2 kali setahun di awal musim hujan (Nopember – Desember) dan di akhir musim hujan (April – Mei) dengan dosis sebagai berikut :

Tabel 1. Pemberian pupuk menurut umur tanaman mangga.

Umur (th)
PK
(kg)
Dosis Pupuk Makro (KG/Pohon)
ZA
TSP
KCl
1 – 3
20 – 30
0.5 – 1
0.25-0.5
0.25-0.5
4 – 6
30 – 40
1 – 2
0.5 – 1
0.5 – 1
7 – 10
50 – 60
2 – 3
1 – 1.5
1 – 1.5
> 10
50 – 60
3 – 4
1.5 – 2
1.5 – 2










2.3.5. Peningkatan Kuantitas Buah
Dari sejumlah besar bunga yang muncul hanya 0,3% yang dapat menjadi buah yang dapat dipetik. Peningkatkan persentase dapat dilakukan dengan  disemprotkan polinator maru atau menyemprotkan serbuk sari diikuti pemberian 300 ppm hormon giberelin. Dengan cara ini, persentase pembentukan buah yang dapat dipanen dapat ditingkatkan menjadi 1,3%.




III.GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI LAPANG


3.1     Letak Geografi dan Topografi

Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree terletak pada wilayah kemukimam Saree Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar, dengan jarak 31 km dari Kota Jantho (Ibukota Kabupaten Aceh Besar) dan 72 km dari Kota Banda Aceh (Ibukota Provinsi Aceh) dengan ketinggian tempat 450-500 meter dari permukaan laut, dengan letak geografis berada pada 950 39 sampai dengan 950 44 BT dan 50 28 LU.
Batas-batas wilayah Balai Pusat Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree sebagai berikut
  • 1.   Sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Aceh Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
  •      Sebelah Timur berbatasan dengan tanah Kodam Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
  •     Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Mulia Kecamatan  Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
  •     Sebelah Selatan berbatasan dengan BLPP Saree Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.

      Balai Pusat Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree mempunyai luas seluruhnya ± 47 Ha. Dari luas tersebut 30% dikelola oleh petani, sedangkan 70% lagi khusus dikerjakan oleh Karyawan Balai Pusat Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree.
            Daerah Balai Pusat Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree merupakan daerah pegunungan, sebagian besar adalah jenis tanah Andisol dengan struktur gembur, warna  hitam dan kaya akan humus,  dengan pH 5–6,5. Sesuai dengan letaknya, bila ditinjau dari topografinya sangat bervariasi yaitu datar, miring dan berbukit-bukit. Menurut informasi dari Balai Pusat Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree, arealnya tersebut mempunyai kemiringan antara 20% - 30%.

3.2. Iklim

            Adapun iklim di Balai Benih Hortikultura Terpadu Saree berdasarkan data yang tertera pada tabel daerah ini mempunyai curah hujan rata-rata 1443,56  mm/tahun. Dari data curah hujan di Balai Benih Hortikultura Terpadu Saree selama 10 tahun, dapat dihitung atau ditentukan jenis tipe iklim di Kecamatan Lembah Seulawah atau Kabupaten Aceh Besar. Dengan menggunkan sistem klasifikasi schmidt & ferguson (1986), maka didapatkan nilai Q nya yaitu: 38,23 % dengan demikian tipe iklim untuk daerah tersebut di golongkan dalam iklim tipe C (Agak Basah).
            Dari nilai Q atau tipe iklim di atas dapat disimpulkan bahwa daerah Kecamatan Lembah Seulawah memiliki intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga peluang terjadinya erosi sangat besar. Namun hal itu dapat dicegah atau dikurangi dengan tindakan konservasi seperti adanya vegetasi atau penanganan lainnya.
Tabel 2. Jumlah dan Rata-Rata Curah Hujan di Kecamatan Lembah Seulawah
               
Kabupaten Aceh Besar selama 8 tahun periode (2004- 2011).
Tahun
curah hujan
Hari hujan
Bulan Basah
Bulan Lembab
Bulan Kering
(mm)
( Hari )
(mm)
Hari
Bulan
2004
1503,3
165
7
3
2
2005
1449,1
162
6
3
3
2006
1504,2
162
7
3
2
2007
1320,4
139
7
3
2
2008
1207,4
169
4
4
4
2009
1760,4
154
9
0
3
2010
1565,6
176
7
3
2
2011
1269,3
151
7
2
3
Jumlah
14435,6
1586
68
26
26
Rerata
1443,56
158,6
6,8
2,6
2,6
Sumber : Badan Meteorologi, Klimatelogi dan Geofisika (BMKG) Blang
                   
Bintang, Aceh Besar.

3.1 Kondisi Bidang Pertanian
Bidang pertanian merupakan salah satu sektor yang harus diperhatikan, baik secara lokal, nasional maupun internasional. Indonesia merupakan negara dengan sektor pertanian yang cukup luas yang tersebar di beberapa wilayah, salah satunya berada di Saree, Aceh Besar.
Adapun kondisi bidang pertanian yang ada di Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree yaitu berbagai jenis tanaman hortikultura seperti tanaman buah-buahan, bunga-bungaan, tanaman sayur-sayuran, dan tanaman rempah-rempahan. Serta tanah yang terdapat di BBH saree yaitu jenis tanah andisol yang merupakan tanah yang subur didukung juga dengan keadaan iklim yang mendukung yaitu tipe C (Agak Basah), sehingga tanaman hortikultura sangat berpotensi dikembangkan disana.



 IV. METODOLOGI PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1. Tempat dan Waktu
Studi Lapang ini telah dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, yang berlangsung pada hari Sabtu, tanggal 11 April 2015, Pukul 09.00 s/d 12.00 WIB.

4.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dipergunakan selama Studi Lapang berlangsung yaitu berupa buku tulis, alat tulis seperti pulpen, lembaran quisioner, dan alat dokumentasi yaitu kamera.

4.3. Metode Studi Lapang
4.3.1. Pengumpulan Data Primer
                Teknik pengumpulan data primer dalam Studi Lapang ini dilakukan dengan cara melakukan observasi yaitu mengamati secara langsung peristiwa atau hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan Studi Lapang. Kegiatan yang dilaksanakan berupa pengamatan pada sistem budidaya yang meliputi manajemen pengelolaan lahan sampai pemanenannya. Wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab langsung dengan responden. Responden dalam hal ini yaitu pembimbing di tempat kegiatan Studi Lapang.

4.3.2. Pengumpulan Data Sekunder
20150411_113628.jpg
Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan melalui pengumpulan teori-teori terkait yang didapatkan melalui media elektronik, buku-buku pustaka dan ilmu disaat kuliah yang berkaitan dengan topik atau judul yang bersangkutan, hal ini dilakukan sebagai referensi pendukung sekaligus pembanding informasi dari data primer yang didapat dari lokasi pelaksanaan Studi Lapang ini. Kemudian mengambil data-data terkait dari kantor Badan Pusat Statistik Aceh dan BMKG, seperti data letak geografis, iklim, jenis tanah, kelerengan daerah, dan batas administrasi lokasi Studi Lapang.

4.4 Analisa Data
            Dalam Studi Lapang ini analisa data dilakukan dengan cara menganalisis data hasil observasi dan wawancara langsung dengan responden atau pembimbing di tempat kegiatan Studi Lapang lalu membandingkan dengan teori-teori yang ada sehingga didapatkan suatu analisa data yang akurat.




 V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Pengamatan
            Hasil yang diperoleh dari kegiatan Studi Lapang ini merupakan hasil wawancara dengan Bapak Yusuf selaku karyawan yang bekerja di Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree tentang pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman mangga yang dikembangkan disana. Dalam hal ini, pengolahan tanah yang dilakukan disana sangat baik dengan didukung pemeliharaan yang begitu memadai dengan jenis tanah Andisol yang kaya akan bahan organik dan ph tanah yang berkisar  6,5 serta mempunyai curah hujan antara 2000 – 2500 mm/tahun.
Tabel quisioner hasil wawancara terlampir.

5.2. Pembahasan
5.2.1. Pengolahan Tanah
            Dalam budidaya tanaman mangga, hal utama yang harus dilakukan adalah persiapan lahan. Persiapan lahan yang baik dilakukan pada musim kering. Tujuan persiapan lahan dilakukan pada musim kering agar mudah mengendalikan gulma yang terdapat pada lahan, karena mudah dibersihkan oleh alat-alat mekanis seperti cangkul atau traktor. Pengolahan tanah baik dilakukan 2 minggu sebelum tanam sekalian dengan pemberian pupuk kandang.
Pengolahan tanah sangat penting dilakukan dalam budidaya tanaman mangga. Tanah yang baik untuk budidaya mangga adalah tanah gembur yang mengandung pasir dan lempung dalam jumlah yang seimbang. Budidaya tanaman mangga pada umumnya baik dilakukan pada dataran rendah atau menengah dengan ketinggian 0 – 500 mdpl. Teknik pengolahan tanah yang dilakukan di BBH Saree, menggunakan traktor dan setelah itu dicangkul dengan tujuan untuk merebahkan gulma yang ada dilahan dan untuk menggemburkan tanah sehingga tanah mudah untuk ditanami tanaman.
      Tanaman mangga dapat tumbuh dengan subur di atas lahan yang gembur dan tidak tergenang air sehingga mangga cocok dibudidayakan pada tanah jenis andisol karena selain gembur, andisol juga memiliki kandungan bahan organik yang tinggi. Kisaran pH yang ada pada tanah andisol 5-7 dan ph tanah andisol yang ada di BBH Saree 6.5, sedangkan ph yang dibutuhkan untuk tanaman mangga berkisar antara 5.5-7.5 sehingga tidak diperlukan lagi pengkapuran karena derajat kemasaman tanah untuk tanaman mangga sudah terpenuhi.
      Setelah itu penentuan jarak tanam juga sangat penting dilakukan, karena jarak tanam sebagai penentu pembagian unsur hara, air dan sinar matahari secara merata pada tanaman yang satu dengan tanaman lainnya. Jika jarak tanam terlalu dekat maka tanaman akan berkompetisi untuk mendapatkan unsur hara, air, dan sinar matahari sehingga tanaman yang kuat akan mendapatkan banyak unsur hara, air dan sinar matahari sedangkan tanaman yang lemah akan mengalami kekurangan unsur hara, penyinaran matahari dan air sehingga dapat menimbulkan produktivitas yang rendah. Tetapi bila jarak tanam terlalu lebar tidak efektif untuk meningkatkan produktivitas karena tanaman yang ditanam akan lebih sedikit sehingga dibutuhkan jarak tanam optimum untuk mendapatkam produktivitas yang maksimal pada suatu tanaman. Begitu juga dengan tanaman mangga jarak tanam yang baik untuk tanaman mangga 8 m untuk produksi dan 3 m untuk entres.
      Lubang tanam selain memberikan manfaat untuk tumbuh berkembangnya perakaran tanaman, juga mempermudahkan perawatan tanaman serta menjaga konservasi lahan, karena pembuatan lubang tanam biasanya disesuiakan dengan kontur lahan dan jarak tanam, satu syarat yang perlu dilakukan dalam usaha penanaman atau budidaya tanaman perkebunan yang baik. Tanaman tahunan biasanya memiliki perakaran yang cukup dalam dan cukup luas. Ukuran lubang tanam yang baik untuk tanaman mangga berkisar antara 60 cm x 60 cm dengan kedalaman 40 cm. Perbandingan media tanam dalam pembibitan tanaman mangga yang dilakukan di BBH Saree yaitu 3 : 1 dengan maksud  3 tanah dan 1 pupuk kandang. Tanaman mangga baru boleh dipindah ke lapangan dari polybag setelah setahun tumbuh dalam polybag.

5.2.2. Pemeliharaan Tanaman Mangga
            Dalam budidaya tanaman mangga pemeliharaan sangat perlu dilakukan untuk menjaga pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman mangga. Pemeliharaan untuk tanaman mangga yang dilakukan di BBH Saree yaitu dengan pemupukan, pengairan, pembumbunan, pemangkasan dan pengelolaan gulma.
            Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengelolaan gulma dan pembumbunan. Pemupukan bertujuan untuk memenuhi jumlah kebutuhan unsur hara didalam tanah. Waktu yang tepat untuk pemupukan dilakukan saat musim hujan agar dapat dilarutkan oleh air hujan sehingga dapat mudah diserap oleh tanaman tanpa perlu dilakukan penyiraman. Selain NPK pupuk lain yang dapat diberikan adalah pupuk kandang. Pupuk kandang diberikan pada saat pengolahan tanah atau 2 minggu sebelum tanam.
          Pemupukan dilakukan menurut fase pertumbuhan tanaman, berikut pada Tabel 3 dilakukannya pemupukan menurut fase pertumbuhan mangga.
Tabel 3. Pemupukan Mangga Menurut Fase Pertumbuhan
No.
Fase Pertumbuhan
Pemupukan
1.
Dalam Lapangan
Pupuk kandang 2 minggu sebelum tanam dan setelah tanam 6 bulan sekali.
2.
Dalam Pembibitan
3 bulan sekali.

      Pengairan juga merupakan hal terpenting dalam budidaya mangga karena air berperan terutama dalam proses pelarutan unsur hara sehingga dapat diserap oleh akar tanaman lalu juga berperan dalam proses transpirasi dan fotosintesis tanaman. Teknik pengairan yang dilakukan dalam budidaya mangga di BBH Saree yaitu dengan menggunakan springkle atau gembor. Pada saat pembibitan dilakukan penyiraman pada pagi hari saja dan saat penanaman dilapangan pengairan berasal dari curah hujan atau dilakukan jika sudah diperlukan.
Pengelolaan gulma juga dilakukan dalam pemeliharaan tanaman mangga, dalam setahun dilapangan dilakukan minimal 3 kali atau disesuaikan pada saat pemberian pupuk dengan penyangkulan untuk membersihkan gulma yang ada disekitar tanaman biasanya dilakukan dengan dibuat lingkaran.
      Pemangkasan sangat perlu diperhatikan dalam budidaya tanaman mangga, dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas yang tinggi selain itu juga untuk menjaga kesehatan tanaman, mengoptimalkan pertumbuhan serta untuk kemudahan dalam pemanenan. Pemangkasan yang dilakukan di BBH Saree bersamaan dengan pengambilan entres.
Proses pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penggemburan, pembersihan, pemupukan dan pengelolaan gulma. Oleh karena itu, tidak ada jadwal khusus untuk melakukan pembumbunan di BBH Saree. Pembumbunan bertujuan untuk menegakkan tanaman karena tanah disekitar tanaman sering sekali terkikis oleh air irigasi maupun air hujan, sehingga tanah yang ada di sekitar tanaman tidak mampu lagi menopang tegaknya tanaman. Selain itu, pembumbunan juga diperlukan karena volume dan ukuran tanaman akan bertambah seiring dengan pertumbuhannya. Penggemburan juga dilakukan bersamaan dengan pembumbunan karena sebelum dibumbun tanah harus lebih dulu digemburkan agar mudah dinaikkan ke pangkal tanaman.
      Tanaman petai juga digunakan dalam budidaya tanaman mangga di BBH Saree sebagai tanaman pelindung. Adapun manfaat dari tanaman pelindung ini untuk mengurangi atau mencegah hilangnya bahan organik tanah, dan juga berfungsi sebagai penahan hembusan angin yang kuat. Daun dan ranting kering yang rontok di atas permukaan tanah akan menjadi mulsa.




VI. PENUTUP

6.1. Kesimpulan
Dari kegiatan Studi Lapang yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Dalam budidaya tanaman pengolahan tanah bertujuan untuk merebahkan gulma yang ada dilahan dan untuk menggemburkan tanah sehingga tanah mudah untuk ditanami tanaman.
2.      Tanah yang digunakan untuk budidaya tanaman di BBH saree, yaitu tanah Andisol.
3.      Ukuran lubang tanam yang baik untuk tanaman mangga berkisar antara 60 cm x 60 cm dengan kedalaman 40 cm. Perbandingan media tanam dalam pembibitan tanaman mangga yang dilakukan di BBH saree yaitu 3 : 1 dengan maksud  3 tanah dan 1 pupuk kandang.
4.      Pemupukan dilakukan menurut fase pertumbuhan tanaman. Dalam pembibitan pemupukan dilakukan 3 bulan sekali dan di lapangan pupuk kandang diberikan 2 minggu sebelum tanam dan setelah tanam pemupukan dilakukan 6 bulan sekali.
5.      Teknik pengairan yang dilakukan dalam budidaya mangga di BBH Saree yaitu dengan menggunakan springkle atau gembor.

6.2. Saran
Untuk kedepannya harapan kami dalam kegiatan Studi Lapang ini diperlihatkan/dipraktekkan secara langsung bagaimana tehnik pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman mangga bukan hanya dengan pemberian teori saja, sehingga mahasiswa dapat  mengerti dengan lebih rinci.


Lampiran 1. Gambar
Gambar 1. Penyambungan Pucuk Tanaman Mangga

Gambar 2. Penjelasan Cara Pemotongan Untuk Penyambungan Pucuk












Gambar 3. Kondisi Tanah Di BBH Saree

Gambar 4. Tanaman Mangga Yang Akan Disambung Pucuknya

Gambar 5. Pengambilan Entres Tanaman Mangga

Gambar 6. Foto Bersama Praktikan Dengan Bapak Yusuf





Lampiran 2. Daftar Quisioner

QUISIONER STUDI LAPANG PETANI MANGGA ( Mangifera indica L )       DI BALAI BENIH HORTIKULTURA SAREE KABUPATEN ACEH BESAR

Nama Petani                 : Yusuf
Jenis Pekerjaan : Petugas perbanyakan Bibit
Status Lahan                 : Milik Instansi Balai Benih Hortikultura Saree
No.
Pertanyaan
Keterangan
        1.       
Berapa ketinggian tempat?
±500 M dpl
   2.       
Berapa curah hujan disini?
2000-2500 mm/tahun.
3.       
Berapa kemiringan tempat disini?
Antara 20% - 30%.
4.       
Tanah apa yang digunakan dalam pembibitan mangga ini?
Andisol.
5.       
Kenapa tanah Andisol yang digunakan?
Karna jenis tanah disini Andisol, jadi kami memakai tanah yang sudah ada disini.
6.       
Berapa ph tanah disini ?
Ph tanah berkisar 6,5.
7.       
Kapan persiapan lahan dilakukan?
Pada musim kering
8.       
Apa tujuan dilakukannya persiapan lahan pada musim kering?
Agar mudah mengelola gulma .
9.       
Bagaimana teknik pengolahan tanahnya?
Menggunakan traktor setelah itu dicangkul.
10.   
Apa tujuan dilakukannya pengolahan tanah?
Agar dapat merebahkan gulma yang ada dan untuk menggemburkan tanah.
11.   
Berapa jarak tanam untuk tanaman mangga?
Jarak tanam untuk tanaman mangga produksi 8 m sedangkan jarak tanam untuk entres 3 m.
12.   
Berapa ukuran lubang tanam untuk tanaman mangga?
60 cm x 60 cm dengan kedalaman 40 cm.
13.   
Berapa perbandingan media tanam dalam pembibitan mangga ini?
3 : 1 yaitu 3 tanah dan 1 pupuk kandang
14.   
Varietas mangga apa yang cepat berbuah?
Varietas harum manis, varietas ini setahun sudah berbuah.
15.   
Apakah pembibitan mangga disini dilakukan secara organik?
Tidak, secara semi organik menggunakan pupuk kandang dan pupuk NPK.
16.   
Jenis plastik apa yang digunakan?
Plastik polyetilen
17.   
Berapa ukuran polybat?
Tinggi 18 cm dan lebar 12 cm.
18.   
Kapan mangga dari polybat dipindahkan ke lapangan?
Setelah setahun dalam polybat.
19.   
Bagaimana teknik pemeliharaannya?
Pemupukan, pengairan, pengelolaan gulma, pembubunan dan pemangkasan.
20.   
Kapan waktu pemberian pupuk yang baik  dalam budidaya mangga disini?
Saat musim hujan agar pupuk dapat dilarutkan oleh air hujan tanpa perlu dilakukan penyiraman sehingga dapat mudah diserap oleh tanaman.
21.   
Pupuk apa saja yang diberikan untuk budidaya tanaman mangga?
Pupuk NPK dan pupuk kandang.
22.   
Kapan saja dilakukannya pemupukan?
Dalam pembibitan dilakukan pemupukan setiap 3 bulan sekali dan 2 minggu sebelum tanam dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang saat sudah ditanam dilapangan dilakukan pemupukan 6 bulan sekali.
23.   
Bagaimana teknik penyiraman?
Menggunakan springkle atau gembor.
24.   
Kapan saja dilakukan penyiraman?
Saat pembibitan dilakukan penyiraman pada pagi hari, dan setelah penanaman dilapangan pengairan berasal dari curah hujan atau pengairan juga dilakukan kapan diperlukan.
25.   
Bagaimana teknik pengelolaan gulma setelah mangga ditanam ke lapangan?
Pengelolaan gulma dilakukan dengan penyangkulan, pada saat pemupukan dan biasanya dibuat lingkaran.
26.   
Kapan dilakukan pembubunan?
Pembubunan dilakukan sekalian dengan pembersihan dan pemupukan.
27.   
Kapan dilakukan pemangkasan?
Pada saat diambil entres.
28.   
Pohon pelindung apa yang digunakan?
Tanaman petai.