Laporan Studi Lapang
TEKNIK
PENGOLAHAN TANAH DAN PEMELIHARAAN
PADA TANAMAN
MANGGA (Mangifera indica L).
DI
BALAI BENIH HORTIKULTURA DESA SUKA MULIA KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN
ACEH BESAR
Oleh
NASRULLAH
1205101050059

PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM,
BANDA ACEH
2015
TEKNIK PENGOLAHAN TANAH DAN PEMELIHARAAN
TANAMAN
MANGGA (Mangifera indica L.)
DI BALAI BENIH HORTIKULTURA DESA SUKA MULIA
KECAMATAN LEMBAH SELAWAH
KABUPATEN ACEH BESAR
Oleh :
NASRULLAH
1205101050059
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
Studi Lapang Merupakan Salah Satu Syarat
dalam
Menyelesaikan Mata Ajaran
Tingkat Sarjana pada
Fakultas Pertanian
Universitas Syiah Kuala
Darussalam-Banda Aceh
Mengetahui Menyetujui
Sekretaris Program Dosen Pembimbing
Studi Agroteknologi
Trisda Kurniawan, SP., M.P Trisda Kurniawan, SP., M.P
NIP. 197707282008011006 NIP. 197707282008011006
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur yang
tak terhingga kepada ALLAH SWT, karena dengan rahmat dan hidayah-Nyalah penulis
telah dapat menyelesaikan kegiatan Studi Lapang yang telah dilaksanakan di Unit
Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree, Kecamatan
Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar dan juga dapat menyelesaikan laporan
Studi Lapang yang berjudul “TEKNIK PENGOLAHAN TANAH DAN PEMELIHARAAN PADA
TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L.) DI BALAI BENIH HORTIKULTURA DESA
SUKA MULIA KECAMATAN LEMBAH SEULAWAH KABUPATEN ACEH BESAR”.
Dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak
Trisda
Kurniawan, SP, M.P sebagai dosen
pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan laporan Studi Lapang ini.
2. Bapak
Yusuf selaku karyawan di Balai Benih Hortikultura (BBH)
Saree Aceh Besar yang telah membimbing penulis di lapangan dalam kegiatan Studi Lapang ini.
3.
Ibu
Nanda Mayani, SP, MP. Selaku koordinator mata kuliah Studi Lapang.
4. Bapak Dr. Ir. Ashabul Anhar, M.Sc dan Trisda
Kurniawan, SP, M.P sebagai Ketua Jurusan dan Sekretaris Program Studi
Agroteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Syiah Kuala.
5. Seluruh Staf BBH Saree Kecamatan Lembah
Seulawah, Aceh Besar yang sudikiranya telah membimbing kami praktikum dan
seluruh teman-teman seperjuangan yang telah membantu dan memberi semangat
kepada penulis.
Di
dalam laporan ini penulis merasa masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari bapak/ ibu
demi penyempurnaan laporan ini.
Darussalam,
2 mei 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL................................................................................................ iv
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... v
I.
PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1.
Latar Belakang................................................................................ 1
1.2. Tujuan.............................................................................................. 3
1.3.
Manfaat........................................................................................... 3
II.
TINJAUAN
PUSTAKA.................................................................... 4
2.1.
Biologi Tanaman Mangga............................................................... 4
2.2.
Syarat Tumbuh Tanaman Mangga................................................... 4
2.2.1.
Iklim....................................................................................... 4
2.2.2. Tanah...................................................................................... 5
2.2.3. Media Tanam.......................................................................... 5
2.2.4. Ketinggian Tempat................................................................. 5
2.3.Pemeliharaan Tanaman Mangga....................................................... 6
2.3.1.
Penyiangan............................................................................. 6
2.3.2.
Pembumbunan dan Penggemburan........................................ 6
2.3.3.
Pemangkasan.......................................................................... 7
2.3.4.
Pemupukan............................................................................. 7
2.3.5.
Peningkatan Kualitas Buah.................................................... 8
III.
GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI LAPANG...................... 9
3.1.
Letak Geografis............................................................................... 9
3.2.
Iklim................................................................................................ 10
3.3. Kondisi
Bidang Pertanian............................................................... 11
IV.
METODOLOGI
PELAKSANAAN KEGIATAN......................... 12
4.1.
Tempat dan Waktu.......................................................................... 12
4.2.
Alat dan Bahan............................................................................... 12
4.3.
Metode Studi Lapang..................................................................... 12
4.3.1.
Pengumpulan Data Primer.................................................... 12
4.3.2.
Pengumpulan Data Sekunder............................................... 12
4.4.
Analisa Data.................................................................................... 13
V.
HASIL
DAN PEMBAHASAN.......................................................... 14
5.1.
Hasil Pengamatan............................................................................ 14
5.2.
Pembahasan..................................................................................... 14
5.2.1.
Pengolahan Tanah.................................................................. 14
5.2.2.
Pemeliharaan Tanaman Mangga............................................. 16
VI.
PENUTUP........................................................................................... 18
6.1.
Kesimpulan...................................................................................... 18
6.2.
Saran................................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 19
LAMPIRAN.......................................................................................................... 20
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Foto-foto Kegiatan Studi Lapang................................................. 20
Lampiran
2. Daftar Quisioner............................................................................. 23
DAFTAR TABEL
Tabel
1. Pemberian
pupuk menurut umur tanaman .................................................. 8
Tabel
2. Jumlah
Dan Rata-Rata Curah Hujan........................................................... 10
Tabel
3. Pemupukan
Mangga Menurut Fase
Pertumbuhan........................................ 16
I.PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Studi Lapang adalah
sebuah mata kuliah wajib pada Program Studi Agroteknologi yang diperuntukkan
bagi mahasiswa tingkat akhir. Studi Lapang ini biasa dilaksanakan dengan metode
survei langsung ke lapangan untuk melihat langsung permasalahan-permasalahan
yang dihadapi oleh petani. Dalam hal ini mahasiswa melaksanakan suatu wawancara
langsung dengan petani yang berkaitan dengan bidang agroteknologi. Penulis
tertarik mengamati secara langsung tentang
“Teknik Pengolahan Tanah Dan Pemeliharaan Tanaman Mangga (Mangifera
Indica L.)”
di BBH Saree, Kabupaten Aceh Besar. Dengan Studi Lapang ini diharapkan dapat
menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa di bidang pertanian.
Tanaman mangga merupakan
buah tropis unggulan nasional yang banyak dijumpai dan ditanam di
Indonesia. Jenis mangga yang tumbuh dan diusahakan di Indonesia sangat
beragam dan tumbuh pada agroekologi yang berbeda-beda sehingga produksi dan
kualitasnya sangat beragam.
Pengamatan terhadap
objek dilakukan berdasarkan judul yang telah ditetapkan sebelum melakukan studi
lapang dengan bantuan bimbingan dari staf ahli yang terdapat pada Balai Benih
Hortikultura (BBH) Saree, Aceh Besar. Pengamatan dilakukan lansung dilapangan
khususnya pada area lahan tanaman mangga dengan memperhatikan teknik pengolahan
tanah secara kondusif.
Mangga termasuk kedalam
marga Mangifera, yang terdiri dari 35-40 anggota, dan suku Anacardiaceae.
Mangifera
indica adalah nama ilmiah dari mangga itu sendiri. Pohon mangga termasuk
tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok
arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m,
mangga berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah
menyebar ke Asia Tenggara semenjak 1500 tahun yang silam. Buah ini dikenal pula
dalam berbagai bahasa daerah, seperti pelem atau poh (jawa).
Persyaratan
yang dikehendaki oleh tanaman mangga untuk hasil optimal adalah pengolahan
tanah sehingga tanaman mangga akan menghasilkan kualitas yang tinggi. Manfaat
dari pengolahan tanah untuk tanaman mangga, supaya mangga yang dibudidayakan
tersebut dapat tumbuh dengan baik dan dapat menghasilkan produktivitas yang
tinggi.
Berdasarkan paparan di atas maka perlu dilakuakan Studi
Lapang tentang pengolahan tanah pada tanaman mangga di Balai Benih Hortikultura
(BBH) Saree Desa Suka Mulia Kecamatan Lembah Seulawah Aceh Besar, agar
mengetahui cara pengolahan tanah yang baik dan benar.
1.2 Tujuan
Adapun
tujuan Studi Lapang ini yaitu untuk menambah wawasan dalam pengolahan tanah dan
pemeliharaan tanaman, serta memahami secara langsung bagaimana cara pengolahan
tanah dan pemeliharaan tanaman mangga di Balai Benih Hortikultura Desa Suka
Mulia, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
1.3
Manfaat
Mengetahui
bagaimana cara pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman mangga untuk
menghasilkan produksi yang baik seperti
yang dilakukan oleh Balai Benih Hortikultura di Desa Suka Mulia, Kecamatan
Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi Tanaman Mangga
Tanaman mangga berasal dari Negara India. Buah mangga baik
untuk kesehatan karena mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh, baik dalam
jumlah sedikit maupun dalam jumlah banyak (Napitupulu, 1982).
Klasifikasi Mangga
Kingdom : Plantae
(Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta
(Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta
(Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida
(berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Anacardiaceae
Genus : Mangifera
Spesies : Mangifera indica L. (Rukmana, 1997)
2.2.
Syarat Tumbuh Tanaman Mangga
2.2.1. Iklim
Tanaman mangga
cocok hidup di daerah dengan musim kering selama 3 bulan. Kemarau yaang panjang
antara 5-6 bulan justru mendukung pembungaan mangga. Masa kering diperlukan
sebelum dan sewaktu berbunga. Jika ditanam di daerah basah, tanaman mengalami
banyak serangan hama dan penyakit serta gugur bunga/buah jika bunga muncul pada saat hujan. Suhu udara yang ideal adalah
antara 270-340C dan tidak ada angin kencang atau angin
panas. Di samping itu, untuk mendapatkan produksi yang optimal, tanaman mangga
membutuhkan penyinaran matahari antara 50%-80% (Rukmana, 1997:32).
2.2.2. Tanah
a. kondisi tanah yang baik untuk
budidaya tanaman mangga adalah yang banyak mengandung unsur hara (subur)
mengandung pasir dan lempung dalam jumlah yang seimbang (gembur).
b. pH yang cocok untuk tanaman mangga
adalah 5.5-7.5. Jika pH tanahnya dibawah 5.5 sebaiknya dilakukan pengapuran
dengan menggunakan kapur dolomit terlebih dahulu sebelum ditanam tanaman mangga
(Rukmana, 1997:34).
2.2.3. Media Tanam
Tanaman
mangga mempunyai daya penyesuaian tinggi terhadap berbagai jenis tanah. Pertumbuhan
dan produksi mangga yang optimal membutuhkan jenis tanah berpasir, lempung atau
agak liat. Keadaan tanah yang ideal untuk tanaman mangga adalah subur, gembur,
banyak mengandung bahan organik, drainasenya baik, dan pH optimum antara
5,5-6,0 (Rukmana, 1997:35).
2.2.4. Ketinggian Tempat
Cocok
ditanam di dataran rendah dan menengah dengan ketinggian 0-500 M dpl. Buah yang
dihasilkan lebih banyak di ketinggian sedang dari pada tinggi (Rukmana,
1997:36)
Pengolahan
tanah yang mudah di lakukan adalah dengan cara mencangkul, sehingga
rumput-rumput dan hama bisa mati. Pencangkulan sebaiknya di lakukan pada musim
kemarau atau selambat-lambatnya pada awal musim hujan. Karena tanah hasil
cangkulan yang masih berbentuk gumpalan akhirnya dapat pecah hancur karena
panas dan tetesan air hujan (Pracaya, 1998).
Jika tanah
sudah gembur dan bebas dari rumput dan gulma serta hama, maka langkah
selanjutnya adalah membuat gundukan-gundukan tanah setinggi 40 cm sampai 80 cm.
Gundukan tersebut akan bermanfaat, selain untuk tempat penanaman, juga untuk
mempercepat perkembangan, karena batang bagian bawah akan tertutup tanah dan
tidak terkena cahaya matahari, sehingga proses pengakaran akan meningkat lebih
banyak, dan pertumbuhan tanaman akan optimal. Selanjutnya pertumbuhannya pun
akan lancar, subur dan cepat besar. Dengan pengolahan tanah yang tepat waktu
dan hasil pengolahan yang baik dan bersih akan memudahkan penanaman (Suparman,
2007).
Tanaman mangga yang ditanam di daerah
berpasir kualiatas buahnya kurang baik, rasa buah menjadi hambar seperti air.
Tanah semacam itu sering mengakibatkan tanaman menjadi kekurangan air, karena
air mudah sekali meresap ke lapisan yang lebih dalam. Tanah yang bertekstur
berat juga kurang baik untuk tanaman mangga, karena pada musim hujan proses
pengeringannya sulit dilakukan. Sebaliknya, pada musim kemarau, tanah menjadi
keras sekali dan pecah-pecah, kandungan airnya terikat erat sehingga tanaman
menjadi kekurangan air, sedangkan air yang tak terikat sudah banyak yang
menguap (AAK,1991)
2.3.
Pemeliharaan Tanaman Mangga
Menurut
Kaslan (1978) pemeliharaan tanaman mangga sebagai berikut :
2.3.1.
Penyiangan
Penyiangan adalah kegiatan
mencabut gulma yang berada diantara sela-sela tanaman dan sekaligus
menggemburkan tanah. Penyiangan bertujuan untuk membersihkan tanaman yang
sakit, mengurangi persaingan penyerapan hara, mengurangi hambatan produksi
anakan dan mengurangi persaingan penetrasi sinar matahari. Hal ini disebabkan
tanaman harus mendapatkan semua nutrisi dan air yang diberikan oleh petani agar
mampu menghasilkan secara optimal. Gulma yang
telah dicabut dapat dibenamkan atau dibuang ke tempat lain agar tidak tumbuh
lagi.
2.3.2.
Penggemburan
dan Pembumbunan
Penggemburan
adalah kegiatan menggemburkan kembali tanah-tanah yang telah memadat, dengan
tujuan memperbaiki peredaran udara didalam tanah dan mengurangi gas-gas atau
zat-zat beracun didalam tanah. Dengan demikian, perakaran tanaman akan menjadi
lebih sehat dan tanaman menjadi cepat besar.
Pembumbunan
adalah penimbunan tanah di pangkal rumpun tanaman, diperlukan untuk menegakkan
tanaman. Tanah di sekitar tanaman sering kali terkikis oleh erosi air terutama
air irigasi maupun air hujan sehingga tanah yang ada di sekitar tanaman tidak mampu
lagi menopang tegaknya tanaman.
2.3.3.
Pemangkasan
Pemangkasan
adalah penghilangan beberapa bagian tanaman.
Pada tanaman mangga, ada dua pemangkasan yaitu pemangkasan bentuk dan pemangkasan
pemeliharaan. Pemangkasan bentuk bertujuan untuk membentuk kerangka dasar
tanaman agar mempunyai produktivitas yang tinggi dan membentuk tajuk untuk
memudahkan panen serta perawatan tanaman. Pemangkasan pemeliharaan bertujuan
untuk kesehatan tanaman, mengoptimalkan pertumbuhan dan produktivitas buah
maupun kontinuitas buah serta kemudahan dalam pemanenan.
2.3.4.
Pemupukan
Pemupukan
adalah tindakan pemberian tambahan unsur-unsur hara pada komplek tanah, baik
langsung maupun tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan pada tanaman.
Tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan
nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan
tanaman.
Pemupukan
pada tanaman mangga menggunakan pupuk organik dan anorganik dengan
memperhatikan cara dan dosisnya :
a.
Pupuk organik
Pupuk
Kandang (PK) diberikan 1 kali pada awal musim hujan. Caranya dibenamkan
disekitar pohon selebar tajuk tanaman atau menggali lubang pada sisi tanaman.
Mangga umur 1 – 5 tahun diberi 30 kg PK, umur 6 – 15 tahun diberi 60 kg PK.
b.
Pupuk anorganik
Akan
lebih optimal jika ditambahkan Supernasa
atau jika pupuk kandang sulit di dapatkan, maka bisa digunakan Supernasa
dengan dosis :
- Alternatif 1 : 0,5 sendok makan/ 5
lt air per tanaman.
- Alternatif 2 : 1 botol Supernasa
encerkan dalam 2 lt (2000 ml) air jadikan larutan induk. Kemudian setiap 1
lt air diberi 20 ml larutan induk tadi untuk menyiram per pohon.
- Pemberian Supernasa
selanjutnya dapat diberikan setiap 3 – 4 bulan sekali.
- Penyemprotan POC
NASA (4-5 ttp/tangki) atau lebih optimal POC NASA (3-4 ttp) + HORMONIK (1 ttp ) per tangki
setiap 1 – 3 bulan sekali.
Pupuk
NPK 2 kali setahun di awal musim hujan (Nopember – Desember) dan di akhir musim
hujan (April – Mei) dengan dosis sebagai berikut :
Tabel 1. Pemberian pupuk menurut umur tanaman mangga.
Umur (th)
|
PK
(kg) |
Dosis
Pupuk Makro (KG/Pohon)
|
||
ZA
|
TSP
|
KCl
|
||
1 – 3
|
20 – 30
|
0.5 – 1
|
0.25-0.5
|
0.25-0.5
|
4 – 6
|
30 – 40
|
1 – 2
|
0.5 – 1
|
0.5 – 1
|
7 – 10
|
50 – 60
|
2 – 3
|
1 – 1.5
|
1 – 1.5
|
> 10
|
50 – 60
|
3 – 4
|
1.5 – 2
|
1.5 – 2
|
2.3.5. Peningkatan Kuantitas Buah
Dari sejumlah besar bunga yang muncul hanya 0,3% yang
dapat menjadi buah yang dapat dipetik. Peningkatkan persentase dapat dilakukan dengan disemprotkan
polinator maru atau menyemprotkan serbuk sari diikuti pemberian 300 ppm hormon
giberelin. Dengan cara ini, persentase pembentukan buah yang dapat dipanen dapat
ditingkatkan menjadi 1,3%.
III.GAMBARAN
UMUM LOKASI STUDI LAPANG
3.1
Letak
Geografi dan Topografi
Balai
Benih Hortikultura (BBH) Saree terletak pada wilayah kemukimam Saree Kecamatan
Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar, dengan jarak 31 km dari Kota Jantho
(Ibukota Kabupaten Aceh Besar) dan 72 km dari Kota Banda Aceh (Ibukota Provinsi
Aceh) dengan ketinggian tempat 450-500 meter dari permukaan laut, dengan letak
geografis berada pada 950 39 sampai dengan 950 44 BT dan
50 28 LU.
Batas-batas wilayah Balai Pusat
Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree sebagai berikut
- 1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Aceh Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
- Sebelah Timur berbatasan dengan tanah Kodam Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Mulia Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan BLPP Saree Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
Balai
Pusat Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree mempunyai luas seluruhnya ± 47
Ha. Dari luas tersebut 30% dikelola oleh petani, sedangkan 70% lagi khusus
dikerjakan oleh Karyawan Balai Pusat Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree.
Daerah
Balai Pusat Pengembangan Hortikultura Terpadu Saree merupakan daerah pegunungan,
sebagian besar adalah jenis tanah Andisol dengan struktur gembur, warna hitam dan kaya akan humus, dengan pH 5–6,5. Sesuai dengan letaknya, bila
ditinjau dari topografinya sangat bervariasi yaitu datar, miring dan
berbukit-bukit. Menurut informasi dari Balai Pusat Pengembangan Hortikultura
Terpadu Saree, arealnya tersebut mempunyai kemiringan antara 20% - 30%.
Adapun iklim di Balai Benih Hortikultura Terpadu Saree
berdasarkan data yang tertera pada tabel daerah ini
mempunyai curah hujan rata-rata 1443,56
mm/tahun. Dari data curah hujan di Balai Benih Hortikultura Terpadu Saree
selama 10 tahun, dapat dihitung atau ditentukan jenis tipe iklim di Kecamatan Lembah Seulawah atau Kabupaten Aceh Besar. Dengan
menggunkan sistem klasifikasi schmidt & ferguson (1986), maka didapatkan nilai Q nya yaitu: 38,23 % dengan
demikian tipe iklim untuk daerah tersebut di golongkan dalam iklim tipe C (Agak Basah).
Dari
nilai Q atau tipe iklim di atas dapat disimpulkan bahwa daerah Kecamatan Lembah
Seulawah memiliki intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga peluang
terjadinya erosi sangat besar. Namun
hal itu dapat dicegah atau dikurangi dengan tindakan konservasi seperti adanya
vegetasi atau penanganan lainnya.
Tabel 2. Jumlah dan Rata-Rata Curah Hujan di Kecamatan Lembah
Seulawah
Kabupaten Aceh Besar selama 8 tahun periode (2004- 2011).
Kabupaten Aceh Besar selama 8 tahun periode (2004- 2011).
Tahun
|
curah
hujan
|
Hari
hujan
|
Bulan
Basah
|
Bulan
Lembab
|
Bulan
Kering
|
(mm)
|
( Hari )
|
(mm)
|
Hari
|
Bulan
|
|
2004
|
1503,3
|
165
|
7
|
3
|
2
|
2005
|
1449,1
|
162
|
6
|
3
|
3
|
2006
|
1504,2
|
162
|
7
|
3
|
2
|
2007
|
1320,4
|
139
|
7
|
3
|
2
|
2008
|
1207,4
|
169
|
4
|
4
|
4
|
2009
|
1760,4
|
154
|
9
|
0
|
3
|
2010
|
1565,6
|
176
|
7
|
3
|
2
|
2011
|
1269,3
|
151
|
7
|
2
|
3
|
Jumlah
|
14435,6
|
1586
|
68
|
26
|
26
|
Rerata
|
1443,56
|
158,6
|
6,8
|
2,6
|
2,6
|
Sumber : Badan Meteorologi,
Klimatelogi dan Geofisika (BMKG) Blang
Bintang, Aceh Besar.
Bintang, Aceh Besar.
3.1
Kondisi Bidang Pertanian
Bidang pertanian merupakan salah satu sektor yang harus diperhatikan, baik secara lokal,
nasional maupun
internasional. Indonesia merupakan negara dengan sektor pertanian
yang cukup luas yang tersebar di beberapa wilayah, salah satunya berada di
Saree,
Aceh Besar.
Adapun kondisi bidang
pertanian yang ada di Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree yaitu berbagai jenis
tanaman hortikultura seperti tanaman buah-buahan, bunga-bungaan, tanaman
sayur-sayuran, dan tanaman rempah-rempahan. Serta tanah yang terdapat di BBH
saree yaitu jenis tanah andisol yang merupakan tanah yang subur didukung juga
dengan keadaan iklim yang mendukung yaitu tipe C (Agak Basah), sehingga tanaman
hortikultura sangat berpotensi dikembangkan disana.
IV. METODOLOGI
PELAKSANAAN KEGIATAN
4.1.
Tempat dan Waktu
Studi
Lapang ini telah dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih
Hortikultura (BBH) Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, yang
berlangsung pada hari Sabtu, tanggal 11 April 2015, Pukul 09.00 s/d 12.00 WIB.
4.2.
Alat dan Bahan
Alat
dan bahan yang dipergunakan selama Studi Lapang berlangsung yaitu berupa buku
tulis, alat tulis seperti pulpen, lembaran quisioner,
dan alat dokumentasi yaitu kamera.
4.3.
Metode Studi Lapang
4.3.1.
Pengumpulan Data Primer
Teknik pengumpulan data
primer dalam Studi Lapang ini dilakukan dengan cara melakukan observasi yaitu
mengamati secara langsung peristiwa atau hal-hal yang berhubungan dengan
pelaksanaan Studi Lapang. Kegiatan yang dilaksanakan berupa pengamatan pada sistem
budidaya yang meliputi manajemen pengelolaan lahan sampai pemanenannya. Wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab langsung dengan
responden. Responden dalam hal ini yaitu pembimbing di tempat kegiatan Studi
Lapang.
4.3.2.
Pengumpulan Data Sekunder
Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan
melalui pengumpulan teori-teori terkait yang didapatkan melalui media
elektronik, buku-buku pustaka dan ilmu disaat kuliah yang berkaitan dengan
topik atau judul yang bersangkutan, hal ini dilakukan sebagai referensi
pendukung sekaligus pembanding informasi dari data primer yang didapat dari
lokasi pelaksanaan Studi Lapang ini. Kemudian mengambil data-data terkait dari
kantor Badan Pusat Statistik Aceh dan BMKG, seperti data letak geografis,
iklim, jenis tanah, kelerengan daerah, dan batas administrasi lokasi Studi
Lapang.
4.4
Analisa Data
Dalam
Studi Lapang ini analisa data dilakukan dengan cara menganalisis data hasil
observasi dan wawancara langsung dengan responden atau pembimbing di tempat kegiatan Studi Lapang lalu
membandingkan dengan teori-teori yang ada sehingga didapatkan suatu analisa
data yang akurat.
V.
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.
Hasil Pengamatan
Hasil
yang diperoleh dari kegiatan Studi Lapang ini merupakan hasil wawancara dengan
Bapak Yusuf selaku karyawan yang
bekerja di Balai Benih Hortikultura (BBH) Saree tentang pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman mangga yang dikembangkan
disana. Dalam hal ini, pengolahan tanah yang dilakukan disana
sangat baik dengan didukung pemeliharaan yang begitu memadai dengan jenis tanah
Andisol yang kaya akan bahan organik dan ph tanah yang berkisar 6,5 serta mempunyai curah hujan antara 2000 –
2500 mm/tahun.
Tabel quisioner hasil wawancara
terlampir.
5.2. Pembahasan
5.2.1. Pengolahan
Tanah
Dalam budidaya tanaman mangga, hal utama yang harus
dilakukan adalah persiapan lahan. Persiapan lahan yang baik dilakukan pada
musim kering. Tujuan persiapan lahan dilakukan pada musim kering agar mudah
mengendalikan gulma yang terdapat pada lahan, karena mudah dibersihkan oleh
alat-alat mekanis seperti cangkul atau traktor. Pengolahan
tanah baik dilakukan 2 minggu sebelum tanam sekalian dengan pemberian pupuk kandang.
Tanaman mangga dapat tumbuh dengan subur di atas lahan
yang gembur dan tidak tergenang air sehingga mangga cocok dibudidayakan pada
tanah jenis andisol karena selain gembur, andisol juga memiliki kandungan bahan
organik yang tinggi. Kisaran pH yang ada pada tanah andisol 5-7 dan ph tanah
andisol yang ada di BBH Saree 6.5, sedangkan ph yang dibutuhkan untuk tanaman
mangga berkisar antara 5.5-7.5 sehingga tidak diperlukan lagi pengkapuran
karena derajat kemasaman tanah untuk tanaman mangga sudah terpenuhi.
Setelah itu penentuan jarak tanam juga
sangat penting dilakukan, karena jarak tanam sebagai penentu pembagian unsur
hara, air dan sinar matahari secara merata pada tanaman yang satu dengan
tanaman lainnya. Jika jarak tanam terlalu dekat maka tanaman akan berkompetisi untuk mendapatkan unsur hara, air, dan sinar
matahari sehingga tanaman yang kuat akan mendapatkan banyak
unsur hara, air dan sinar matahari sedangkan tanaman yang lemah
akan mengalami kekurangan unsur hara, penyinaran matahari dan air sehingga
dapat menimbulkan produktivitas yang rendah. Tetapi bila jarak tanam terlalu
lebar tidak efektif untuk meningkatkan produktivitas karena tanaman yang ditanam
akan lebih sedikit sehingga dibutuhkan jarak tanam optimum untuk mendapatkam
produktivitas yang maksimal pada
suatu tanaman. Begitu juga dengan tanaman mangga jarak tanam yang baik untuk
tanaman mangga
8 m untuk produksi dan 3 m untuk entres.
Lubang tanam selain memberikan manfaat
untuk tumbuh berkembangnya perakaran tanaman, juga mempermudahkan perawatan
tanaman serta menjaga konservasi lahan, karena pembuatan lubang tanam biasanya
disesuiakan dengan kontur lahan dan jarak tanam, satu syarat yang perlu
dilakukan dalam usaha penanaman atau budidaya tanaman perkebunan yang baik. Tanaman
tahunan biasanya memiliki perakaran yang cukup dalam dan cukup luas. Ukuran lubang tanam yang baik untuk tanaman
mangga berkisar antara 60
cm x 60 cm dengan kedalaman 40 cm. Perbandingan media tanam dalam pembibitan tanaman mangga
yang dilakukan di BBH Saree yaitu 3
: 1 dengan maksud 3
tanah dan 1 pupuk kandang. Tanaman mangga baru boleh dipindah ke lapangan dari
polybag setelah setahun tumbuh dalam polybag.
5.2.2. Pemeliharaan
Tanaman Mangga
Dalam budidaya tanaman mangga pemeliharaan sangat perlu
dilakukan untuk menjaga pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman mangga.
Pemeliharaan untuk tanaman mangga yang dilakukan di BBH Saree yaitu dengan
pemupukan, pengairan, pembumbunan, pemangkasan dan pengelolaan gulma.
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengelolaan gulma
dan pembumbunan. Pemupukan bertujuan untuk memenuhi jumlah kebutuhan unsur hara
didalam tanah. Waktu yang tepat untuk pemupukan dilakukan saat musim hujan agar
dapat dilarutkan oleh air hujan sehingga dapat mudah diserap oleh tanaman tanpa
perlu dilakukan penyiraman. Selain NPK pupuk lain
yang dapat diberikan adalah
pupuk kandang.
Pupuk kandang diberikan pada
saat pengolahan tanah atau 2 minggu sebelum tanam.
Pemupukan dilakukan
menurut fase pertumbuhan tanaman, berikut pada Tabel 3
dilakukannya pemupukan menurut fase pertumbuhan mangga.
Tabel 3. Pemupukan Mangga Menurut Fase
Pertumbuhan
No.
|
Fase Pertumbuhan
|
Pemupukan
|
1.
|
Dalam Lapangan
|
Pupuk
kandang 2 minggu sebelum tanam dan setelah tanam 6 bulan sekali.
|
2.
|
Dalam Pembibitan
|
3 bulan sekali.
|
Pengairan juga merupakan hal
terpenting dalam budidaya mangga karena air berperan
terutama dalam proses pelarutan unsur hara sehingga dapat diserap oleh akar
tanaman lalu juga berperan dalam proses transpirasi dan fotosintesis tanaman.
Teknik pengairan yang dilakukan dalam budidaya mangga di BBH Saree yaitu dengan
menggunakan springkle atau gembor. Pada saat
pembibitan dilakukan penyiraman pada pagi hari saja dan saat penanaman
dilapangan pengairan berasal dari curah hujan atau dilakukan jika sudah diperlukan.
Pengelolaan
gulma juga dilakukan dalam pemeliharaan tanaman mangga, dalam setahun
dilapangan dilakukan minimal 3 kali atau disesuaikan pada saat pemberian pupuk
dengan penyangkulan untuk membersihkan gulma yang ada disekitar tanaman
biasanya dilakukan dengan dibuat lingkaran.
Pemangkasan sangat perlu diperhatikan
dalam budidaya tanaman mangga, dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas
yang tinggi selain itu juga untuk menjaga kesehatan tanaman, mengoptimalkan
pertumbuhan serta untuk kemudahan dalam pemanenan. Pemangkasan yang dilakukan
di BBH Saree bersamaan dengan pengambilan entres.
Proses
pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penggemburan, pembersihan, pemupukan dan
pengelolaan gulma. Oleh karena itu, tidak ada jadwal khusus untuk melakukan
pembumbunan di BBH Saree. Pembumbunan bertujuan untuk menegakkan tanaman karena
tanah disekitar tanaman sering sekali terkikis oleh air irigasi maupun air
hujan, sehingga tanah yang ada di sekitar
tanaman tidak mampu lagi menopang tegaknya tanaman. Selain itu, pembumbunan
juga diperlukan karena volume dan ukuran tanaman akan bertambah seiring dengan
pertumbuhannya. Penggemburan juga dilakukan bersamaan dengan pembumbunan
karena sebelum dibumbun tanah harus lebih dulu digemburkan agar mudah dinaikkan
ke pangkal tanaman.
Tanaman petai juga digunakan dalam
budidaya tanaman mangga di BBH Saree sebagai tanaman pelindung. Adapun manfaat
dari tanaman pelindung ini untuk mengurangi atau mencegah hilangnya bahan
organik tanah, dan juga berfungsi sebagai penahan hembusan angin yang kuat.
Daun dan ranting kering yang rontok di atas permukaan tanah akan menjadi mulsa.
VI. PENUTUP
6.1.
Kesimpulan
Dari
kegiatan Studi Lapang yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.
Dalam budidaya
tanaman pengolahan tanah bertujuan untuk merebahkan gulma yang ada dilahan dan
untuk menggemburkan tanah sehingga tanah mudah untuk ditanami tanaman.
2.
Tanah yang digunakan untuk budidaya tanaman di BBH saree, yaitu tanah
Andisol.
3.
Ukuran lubang tanam yang baik untuk tanaman
mangga berkisar antara 60
cm x 60 cm dengan kedalaman 40 cm. Perbandingan media tanam dalam pembibitan tanaman mangga
yang dilakukan di BBH saree yaitu 3 : 1 dengan maksud 3 tanah dan 1 pupuk kandang.
4.
Pemupukan dilakukan menurut fase
pertumbuhan tanaman. Dalam pembibitan pemupukan dilakukan 3 bulan sekali dan di
lapangan pupuk kandang diberikan 2 minggu sebelum tanam dan setelah tanam
pemupukan dilakukan 6 bulan sekali.
5.
Teknik pengairan yang dilakukan dalam budidaya mangga di BBH Saree yaitu dengan
menggunakan springkle atau gembor.
6.2.
Saran
Untuk
kedepannya harapan kami dalam kegiatan Studi Lapang ini
diperlihatkan/dipraktekkan secara langsung bagaimana tehnik pengolahan tanah
dan pemeliharaan tanaman mangga bukan hanya dengan pemberian teori saja,
sehingga mahasiswa dapat mengerti dengan
lebih rinci.
Lampiran 1. Gambar
Gambar
1. Penyambungan Pucuk Tanaman Mangga

Gambar
2. Penjelasan Cara Pemotongan Untuk Penyambungan Pucuk
Gambar
3. Kondisi Tanah Di BBH Saree

Gambar
4. Tanaman Mangga Yang Akan Disambung Pucuknya

Gambar
5. Pengambilan Entres Tanaman Mangga

Gambar
6. Foto Bersama Praktikan Dengan Bapak Yusuf
Lampiran
2. Daftar Quisioner
QUISIONER STUDI LAPANG PETANI MANGGA ( Mangifera indica L ) DI BALAI BENIH HORTIKULTURA SAREE KABUPATEN ACEH
BESAR
Nama Petani : Yusuf
Jenis Pekerjaan : Petugas perbanyakan Bibit
Status Lahan : Milik Instansi Balai Benih Hortikultura Saree
No.
|
Pertanyaan
|
Keterangan
|
1.
|
Berapa ketinggian tempat?
|
±500 M dpl
|
2.
|
Berapa curah hujan disini?
|
2000-2500 mm/tahun.
|
3.
|
Berapa kemiringan tempat disini?
|
Antara 20% - 30%.
|
4.
|
Tanah
apa yang digunakan dalam pembibitan mangga ini?
|
Andisol.
|
5.
|
Kenapa tanah Andisol yang digunakan?
|
Karna jenis tanah disini Andisol, jadi kami memakai
tanah yang sudah ada disini.
|
6.
|
Berapa ph tanah disini ?
|
Ph tanah berkisar 6,5.
|
7.
|
Kapan
persiapan lahan dilakukan?
|
Pada
musim kering
|
8.
|
Apa
tujuan dilakukannya persiapan lahan pada musim kering?
|
Agar
mudah mengelola gulma .
|
9.
|
Bagaimana
teknik pengolahan tanahnya?
|
Menggunakan
traktor setelah itu dicangkul.
|
10.
|
Apa
tujuan dilakukannya pengolahan tanah?
|
Agar
dapat merebahkan gulma yang ada dan untuk menggemburkan tanah.
|
11.
|
Berapa
jarak tanam untuk tanaman mangga?
|
Jarak tanam untuk tanaman mangga produksi 8 m sedangkan
jarak tanam untuk entres 3 m.
|
12.
|
Berapa ukuran lubang tanam untuk tanaman mangga?
|
60 cm x 60 cm dengan kedalaman 40 cm.
|
13.
|
Berapa
perbandingan media tanam dalam pembibitan mangga ini?
|
3 : 1 yaitu 3 tanah dan 1 pupuk
kandang
|
14.
|
Varietas mangga apa yang cepat berbuah?
|
Varietas harum manis, varietas ini setahun sudah
berbuah.
|
15.
|
Apakah
pembibitan mangga
disini dilakukan secara organik?
|
Tidak,
secara semi organik menggunakan pupuk kandang dan pupuk NPK.
|
16.
|
Jenis
plastik apa yang digunakan?
|
Plastik
polyetilen
|
17.
|
Berapa
ukuran polybat?
|
Tinggi 18 cm dan lebar 12 cm.
|
18.
|
Kapan
mangga dari polybat dipindahkan ke lapangan?
|
Setelah setahun dalam polybat.
|
19.
|
Bagaimana
teknik pemeliharaannya?
|
Pemupukan, pengairan, pengelolaan gulma, pembubunan dan
pemangkasan.
|
20.
|
Kapan
waktu pemberian pupuk yang baik dalam budidaya mangga disini?
|
Saat
musim hujan agar pupuk dapat dilarutkan oleh air hujan tanpa perlu dilakukan
penyiraman sehingga dapat mudah diserap oleh tanaman.
|
21.
|
Pupuk
apa saja yang diberikan untuk budidaya tanaman mangga?
|
Pupuk
NPK dan pupuk kandang.
|
22.
|
Kapan
saja dilakukannya pemupukan?
|
Dalam
pembibitan dilakukan pemupukan setiap 3 bulan sekali dan 2 minggu sebelum tanam dilakukan
pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang saat sudah ditanam dilapangan
dilakukan pemupukan 6 bulan sekali.
|
23.
|
Bagaimana
teknik penyiraman?
|
Menggunakan
springkle atau gembor.
|
24.
|
Kapan
saja dilakukan penyiraman?
|
Saat
pembibitan dilakukan penyiraman pada pagi hari,
dan setelah penanaman
dilapangan pengairan berasal dari curah hujan atau pengairan juga dilakukan kapan diperlukan.
|
25.
|
Bagaimana
teknik pengelolaan gulma setelah mangga ditanam ke lapangan?
|
Pengelolaan gulma dilakukan dengan penyangkulan, pada
saat pemupukan dan biasanya dibuat lingkaran.
|
26.
|
Kapan dilakukan pembubunan?
|
Pembubunan dilakukan sekalian dengan pembersihan dan
pemupukan.
|
27.
|
Kapan dilakukan pemangkasan?
|
Pada saat diambil entres.
|
28.
|
Pohon pelindung apa yang digunakan?
|
Tanaman petai.
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar